Sosiologi
sastra merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat dari
atau mengenai sastra karya para kritikus dan sejarahwan yang terutama
mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat
ia berasal, ideologi, politik, dan sosialnya, kondisi ekonomi serta khalayak
yang ditujunya (KBBI, 2010). Dalam novel Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan
ini menceritakan hal yang sangat krusial yang ada pada masyarakat Indonesia
tentang adanya perbedaan pendapat walau mereka berada di naungan yang sama
sehingga analisis novel ini dilakukan secara sosiologi sastra.
Novel
ini menceritakan tentang hubungan sensitif antara NU dan Muhammadiyah di
kehidupan kita namun dituangkan dalam bentuk cerita bernuansa romeo juliet
antara Mif yang merupakan anak utara penganut Islam modern (yang identik dengan
Muhammadiyah) dan Fauzia yang merupakan anak selatan penganut Islam tradisional
(yang identik dengan Nahdlatul Ulama). Walaupun mereka hidup di kampung yang
sama yaitu Tegal Centong, tidak menjadikan perjalanan cinta mereka berjalan
begitu mulusnya. Perbedaan pandangan keluarga dalam keaagaman menjadikan
penghalang yang cukup besar bagi mereka. Di tambah lagi orang tua mereka
merupakan tokoh penting di wilayahnya masing-masing. Perjalanan mereka untuk
meminta restu akhirnya mengungkap perjalanan panjang orang tua mereka yang
tidak sekedar ‘berbeda’.
Meskipun
memiliki kisah utama tentang Mif dan Fauzia, kisah kedua orang tua mereka Moek
dan Is juga sangatlah menarik, bahkan lebih menarik dari kisah asmara kedua
anaknya. Moek dan Is dulunya adalah sahabat akrab yang kemudian berpisah karena
Moek pergi ke pesantren sedangkan Is tetap berada di kampung menjadi pengembala
kambing. Namun ketika Moek pulang, ia membawa pemahaman baru dan menjadikan
kampungnya di ujung utara sepemahaman dengannya tentang agama Islam. Di sisi
lain, Is juga menjadi tokoh penting keagamaan yang ada di wilayah ujung selatan
kampung Tegal Centong. Keduanya menjadi jarang bertemu dan bahkan perselisihan
atau perbedaan cara mereka beribadah membuat mereka enggan bertemu.
Di
lihat dari kedua cerita yang ada pada novel, pengarang mengambil latar sosial
yang membuat cerita menjadi lebih sederhana bahkan pertemuan antara kedua tokoh
seolah-olah bisa saja terjadi di dunia nyata. Dan juga cerita tentang
persahabatan kedua orang tua mereka yang berubah menjadi perselisihan hanya
karena perbedaan pendapat juga merupakan hal yang wajar terjadi di dunia ini
apalagi ditambah bila mereka mempunyai ego yang tinggi. Hal yang dapat dilakukan
untuk mencegah perselisihan terjadi adalah adanya keterbukaan tentang perbedaan
itu. Dalam kasus novel ini yang menceritakan tentang hubungan keras antara NU
dan Muhammadiyah yang ada di negara kita ini padahal kedua organisasi ini
sama-sama merupakan organisasi keagamaan Islam namun mengapa mereka selalu
berselisih? Itu dikarenakan perbedaan pandangan yang terjadi pada mereka. NU
merupakan organisasi keagamaan Islam yang mempertahankan Islam sebagaimana
adanya dengan kata lain Islam Tradisional, namun Muhammadiyah adalah organisasi
keagamaan Islam yang mengutamakan tentang Islam Baru atau modern di zamannya.
Tidak tergantung dengan ketradisionalan lagi. Bila kita bersifat terbuka
terhadap keduanya, saling menerima pengajaran keduanya dan menjadikan satu
otomatis keduanya akan berkurang perselisihannya dan perlahan-lahan akan
bersatu.

Comments
Post a Comment